Make your own free website on Tripod.com

PEMILIHAN CALON DEKAN
( sebuah keprihatinan )
 

Mulanya banyak pihak yang memberikan respek yang positif dan sangat berharap tumbuh dan berkembangnya proses demokratisasi dalam proses pemilihan calon dekan di lingkungan UNS yang melibatkan berbagai komponen kampus seperti: dosen, karyawan, dan mahasiswa. Oleh karena, proses seperti itu baru kali pertama dilakukan di UNS. Namun, sayang  seribu kali sayang, dalam perjalanannya ternyata tak seindah aslinya alias jauh dari harapan banyak pihak. Bahkan menimbulkan permasalahan baru di tingkat grassroot (warga kampus) yaitu potensial konflik diantara mereka yang pada akhirnya membawa suasana kehidupan kampus menjadi kurang kondusif dan penuh kecurigaan. Bagaimana tidak? Calon dekan yang unggul dalam proses pemilihan yang melibatkan dosen, karyawan, dan mahasiswa yang jumlah pemilihnya mencapai ratusan orang, ternyata dalam sidang senat fakultas yang jumlah anggotanya hanya puluhan orang harus menerima pil pahit alias kalah atau tersingkir.

Dalam perkembangan terakhir, di lingkungan UNS ini paling tidak terdapat lima fakultas yaitu Fakultas MIPA, Fakultas Hukum, Fakultas Sastra, Fakultas Teknik, dan Fakultas Ekonomi yang hasil pemilihan calon dekan tidak seiring dan sejalan dengan hasil penjaringan calon dekan yang dilakukan oleh dosen, karyawan, dan mahasiswa sebagai perwujudan aspirasi yang berkembang di grassroot (warga kampus). Hasil seperti inilah yang nampaknya sulit diterima bahwa ternyata dalam era reformasi, era keterbukaan, aspirasi yang berkembang di lingkungan warga kampus bukan menjadi acuan (referensi) bagi para anggota senat fakultas yang terhormat. Justru penentu berada pada anggota senat fakultas yang jumlahnya hanya 14 orang. Sebuah pertanyaan besar, mereka itu mewakili siapa? Dengan kata lain bahwa aspirasi grassroot nampaknya dicampakkan begitu saja! Sebagai salah seorang warga kampus, secara pribadi saya ikut prihatin dan ngelus dada, bahwa dalam era reformasi kok ya masih ada pola pikir yang cenderung mengabaikan dinamika warga kampus yang senantiasa berkembang. Sungguh memprihatinkan dan menyedihkan!

Akankah sejarah pahit akan berulang kembali di Fakultas Ekonomi UNS tercinta ini? Bukan tidak mungkin hal itu akan berulang dan berulang manakala penentu kebijakan akhir di tingkat universitas tidak peka terhadap aspirasi yang berkembang di kalangan warga kampus. Saat itu pemilihan calon dekan yaitu Drs. Achmad Syaichu, MSc (almahum) dalam rapat dewan dosen menang mutlak atas calon lain yaitu Dra. Salamah Wahyuni, MS (sekarang menjadi dekan FE UNS). Namun, dalam pemilihan di rapat senat fakultas yang menang adalah Dra. Salamah Wahyuni, SU yang selanjutnya terpilih menjadi dekan FE UNS. Perlu diingat bahwa saat itu kondisinya jauh berbeda dengan yang ada saat ini yaitu era reformasi. Dan akankah pola-pola seperti ini akan terus berlangsung secara berkesinambungan dan menunggu korban-korban lain berjatuhan? Mudah-mudahan tidak dan jangan sampai berulang. Sudah seharusnya perlu adanya perombakan dalam menentukan komposisi keanggotaan senat fakultas. Sistem pemilihan calon dekan hingga kini jelas sangat menguntungkan para pejabat dekan yang ingin ikut pemilihan calon dekan lagi. Coba lihat, bahwa paling tidak beberapa pimpinan fakultas termasuk dirinya secara otomatis menjadi anggota senat fakultas. Lagipula calon dekan yang kini menjadi dekan telah mengantongi satu suara untuk dirinya sendiri, sementara kalau calon bukan dari anggota senat tidak punya hak pilih. Komposisi keanggotaan dalam senat seperti itu jelas tidak sehat dan tidak memberikan peluang kompetisi secara fair. Lagipula, adalah sulit diterima manakala seorang pimpinan eksekutif sekaligus menjadi ketua senat fakultas. Bagaimana mungkin seorang  ketua senat (legislatif) sekaligus sebagai dekan (eksekutif) dapat melakukan kontrol terhadap performance seorang dekan? Jawabnya sederhana, sulit dilakukan! Oleh karena itu, selama aturan main yang ada dalam hal ini PP 60 masih tetap seperti yang dulu dan lagi pula anggota senat fakultas tidak memiliki kepekaan terhadap aspirasi yang berkembang dalam lingkungan warga kampus, maka sulit rasanya pembaharuan di dunia kampus dapat dilakukan. Sampai kapan harus sabar menunggu dan menunggu?

 

Salam hangat,
Mr. Dipi