Make your own free website on Tripod.com

KADO TAHUN BARU YANG BIKIN "PUSING"

Barangkali bukanlah barang baru bagi kita semua bahwa tahun baru 2003 yang menurut penanggalan Cina dikenal sebagai Tahun Kambing Emas. Tahun baru tentu saja bagi setiap orang akan mempunyai makna tersendiri. Paling tidak Tahun baru akan memunculkan suatu harapan-harapan yang baru, sehingga harapannya Tahun baru akan memberikan secercah harapan yang baru yang dapat membawa kehidupan ini menjadi lebih baik ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Bukankah agama mengajarkan bahwa hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin, dan besok harus lebih baik daripada hari ini.Inilah yang sebenarnya bisa kita jadikan sebagai suatu acuan dalam mengarungi hidup dan kehidupan yang fana ini.

Namun apa yang terjadi dengan Tahun Baru? Ternyata memasuki Tahun Baru 2003 ini kita dibuat kaget bin terkejut tatkala pemerintah secara resmi mengumumkan suatu kebijakan ekonomi yang tidak populer yaitu menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), Tarif dasar Listrik (TDL), dan tarif telepon secara bersamaan. Kebijakan ini jelas merupakan kado Tahun Baru yang tidak mengenakkan disaat-saat bangsa ini belum lagi pulih ekonominya. Bagaimana tidak? Track menuju pemulihan ekonomi (economic recovery) sudah pada jalur yang benar, namun secara mengejutkan justru pemerintah membuat kebijakan yang sangat menyakitkan rakyat khususnya lapisan menengah - bawah. Bagaimana tidak? Kenaikan ketiga komponan tersebut sangatlah strategis bagi tumbuh dan berkembangnya perekonomian suatu negara. Oleh karena itu, dapat kita lihat sekarang bahwa hampir semua aspek kehidupan masyarakat terkena imbasnya atas kenaikan komponen BBM, listrik, dan telepon. Hampir semua jenis produk dan jasa menunjukkan trend kenaikan harga, termasuk kebutuhan pokok masyarakat. Tak dapat dipungkiri bahwa kenaikan harga BBM, listrik, dan telepon jelas akan menambah beban masyarakat semakin berat serta daya beli masyarakat yang semakin melemah. Melihat kondisi seperti ini, maka tidaklah mengherankan kalau muncul berbagai aksi penolakan atas kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM, listrik, dan telepon secara serentak tersebut di berbagai daerah dan dari berbagai elemen masyarakat baik dari kalangan mahasiswa, serikat pekerja, pengusaha, dan kaum profesional.

Apakah dengan menaikkan harga BBM, listrik, dan telepon merupakan satu-satunya alternatif bagi nomboki defisit APBN? Alternatif lain masih terbuka luas, manakala pemerintah dengan serius mampu memburu para konglomerat hitam yang berhasil ngemplang uang negara yang jumlahnya ratusan triliun rupiah. Nah inilah yang saat ini menjadi salah satu kendala pemerintah dalam mengahadapi para konglomerat bermasalah. Bahkan yang mengherankan beberapa diantara mereka akan memperoleh pengampunan dalam bentuk Release and Discharge(R&D), yang bahasa awamnya ya dilepas dari tuntutan hukum. Bagaimana selanjutnya? Inilah yang akan terus kita ikuti. Masih adakah "sense of crisis" diantara para pimpinan di negeri ini? Inikah kado tahun baru yang bikin pusing kita semua?

@@@