Make your own free website on Tripod.com

dipisolo.tripod.com

 

TANTANGAN DAN HARAPAN EKONOMI 2005

Oleh: Drs. Djoko Purwanto, MBA

 

 

Tahun 2004 telah berlalu, dan kini kita memasuki tahun baru 2005 dengan sejumlah tantangan dan harapan-harapan baru. Dalam memasuki tahun 2005, kita perlu tumbuhkan sikap optimisme tinggi, khususnya dalam kaitannya dengan percepatan pembangunan ekonomi Indonesia ke depan, meskipun sejumlah tantangan dan rintangan menghadang di depan mata.

Di samping itu, dalam memasuki tahun baru ini kita perlu kerja keras dan cerdas, serta introspeksi terhadap apa yang telah dilakukan bangsa ini dalam membangun ekonomi Indonesia ke depan yang semakin berat.
Secara umum, kinerja ekonomi Indonesia selama tahun 2004 menunjukkan arah pergerakan pembangunan yang positif, yang ditandai dengan beberapa indikator ekonomi makro yang cenderung semakin membaik meskipun belum sepenuhnya mampu memenuhi harapan banyak pihak.
Sebagaimana kita ketahui bahwa pertumbuhan ekonomi yang direncanakan dalam APBN 2004 sebesar 4,8% memang cukup moderat dengan mempertimbangkan berbagai factor pendorong bagi tumbuh berkembangnya perekonomian nasional. Dalam perkembangannya menunjukkan bahwa hingga akhir tahun 2004 pertumbuhan ekonomi menjadi 5,1%.
Sementara itu, tingkat inflasi yang diperkirakan 7% (tahun 2004), tampaknya dapat dicapai, mengingat hingga November 2004 inflasi tahunan (year on year) mencapai 6,18%. Tingkat inflasi tahunan tertinggi selama tahun 2004 terjadi bulan Juli sebesar 7,20%, sedangkan yang terendah terjadi bulan Februari sebesar 4,60%.
Sedangkan tingkat suku bunga SBI (Sertifikat Bank Indonesia) untuk jangka waktu 3 bulan diperkirakan 8,5% (2004), tampaknya dapat dicapai lebih rendah dari yang diperkirakan sekitar 7,3%. Tingkat suku bunga SBI dari tahun ke tahun yang cenderung menurun ini, kini mulai direspons positif di dunia perbankan dengan memberikan tingkat suku bunga kredit ke para nasabah yang relatif rendah dibanding beberapa tahun sebelumnya. Dengan kata lain, dunia perbankan nasional sudah berada pada jalur yang tepat sebagai lembaga intermediasi bagi masyarakat pada umumnya.
Bagaimana dengan kurs rupiah selama tahun 2004? Sebagaimana kita ketahui bahwa nilai kurs rupiah terhadap dolar AS dalam APBN 2004 ditetapkan Rp. 8.600/ US$, dalam perjalanannya tampaknya sulit dicapai. Mengingat perkembangan kurs rupiah yang cenderung fluktuatif berada pada kisaran Rp. 9.000-an per dolar AS. Upaya Bank Indonesia sebagai bank sentral Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah kelihatannya belum seperti yang diharapkan.
Sedangkan indikator ekonomi makro lainnya yaitu harga minyak mentah dalam APBN 2004 sebesar US$22/barel, ternyata dalam perkembangannya melesat jauh dari yang diperkirakan yaitu hingga mencapai diatas US$43/barel, bahkan pernah menapai puncaknya US$55,50/barel pada bulan Oktober 2004.
Oleh karenanya, tidaklah mengherankan kalau subsidi BBM yang dianggarkan hanya Rp 14,5 triliun membengkak hingga Rp 63 triliun. Upaya pemerintah mengurangi jumlah subsidi BBM tahun 2005 dengan rencana kenaikan harga BBM kelihatannya merupakan langkah yang serba sulit di tengah situasi dan kondisi bangsa ini yang tengah dirundung duka.
Sebagaimana kita ketahui bahwa subsidi BBM tahun 2004 merupakan subsidi terbesar kedua setelah tahun 2000 dengan subsidi BBM sebesar Rp 68 triliun. Ironisnya, di tengah kenaikan harga minyak mentah dunia, Indonesia justru menanggung beban cukup berat. Mengapa? Hal ini mengingat bahwa kini Indonesia tidak lagi memiliki kemampuan yang cukup untuk memenuhi berbagai kebutuhan minyak mentah. Oleh karenanya, untuk memenuhi kebutuhan minyak Indonesia harus mengimpor minyak mentah dari luar negeri yang jumlahnya cukup besar diperkirakan sekitar 90.000 barel/hari.
Bagaimana dengan defisit APBN 2004? Sebagaimana kita ketahui bahwa defisit APBN 2004 diperkirakan sebesar Rp 24,4 triliun atau 1,2% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Defisit anggaran pada semester pertama tercatat sebesar Rp 18,55 triliun atau setara dengan 76% dari target tahun ini sebesar Rp 24,4 triliun (1,2 % dari PDB). Realisasi pendapatan negara dan hibah mencapai Rp 144,78 triliun, sedangkan belanja negara tercatat Rp 163,34 triliun.
Sementara itu, kinerja investasi pada semester pertama tahun 2004 mulai menunjukkan kecenderungan yang positif, terutama minat investor domestik untuk berinvestasi. Hal ini terlihat dari nilai persetujuan investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) yang mencatat peningkatan 52,3% dibanding periode sama tahun sebelumnya.
Menurut data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) bahwa pada semester pertama tahun 2004 PMDN yang disetujui pemerintah sebanyak 72 proyek dengan nilai Rp 15,773 triliun, naik 52,3% dibandingkan periode sama tahun lalu yang mencatat 109 proyek dengan nilai Rp 10,357 triliun.
Tantangan dan harapan
Tantangan ke depan dalam melakukan percepatan ekonomi Indonesia semakin berat, antara lain: upaya melakukan pembangunan kembali sarana dan prasarana ekonomi yang rusak akibat bencana alam, masalah penciptaan lapangan kerja, peningkatan investasi asing, dan melambungnya harga minyak mentah internasional.
Tantangan yang sudah menghadang di depan mata adalah bagaimana membangun kembali sarana dan prasarana ekonomi di berbagai wilayah di Tanah Air yang kini mengalami kerusakan yang cukup berat. Oleh karenanya, diperlukan investasi (domestik dan asing) yang tidak sedikit.
Di samping itu, tantangan berikutnya adalah masalah penciptaan lapangan kerja yang mampu menampung jumlah pengangguran yang semakin meningkat. Pertumbuhan ekonomi tahun 2005 yang diperkirakan sebesar 5,5%, tampaknya belum mampu mengatasi masalah pengangguran yang ada saat ini.
Tantangan lainnya adalah masih tingginya harga minyak mentah internasional yang masih berada di kisaran US$43/barel. Tingginya harga minyak mentah internasional akan memberikan dampak yang kurang menguntungkan bagi Indonesia. Semakin tinggi harga minyak mentah internasional, maka akan berdampak pada semakin berat beban anggaran yang harus dipikul. Ujung-ujungnya akan kembali membebani masyarakat pada umumnya dalam bentuk kenaikan harga produk.
Mudah-mudahan bangsa ini diberikan kekuatan dan kemampuan dalam menghadapi dan mengatasi berbagai tantangan yang sudah menghadang di depan mata. Semoga! -